Minggu, 02 Oktober 2011

Pemanfaatan internet dalam pendidikan


Internet merupakan teknologi jaringan komputer yang ditemukan pada tahun 1940-an di Harvard University oleh Prof H.Aiken. Penemuan tersebut berperan dalam kemajuan di dunia pendidikan. Adapun beberapa manfaat Internet bagi dunia pendidikan adalah:

Internet Sebagai Media Komunikasi

Ilmu penengetahuan akan cepat berkembang apabila komunikasi akan dapat berjalan dengan baik. Internet memberikan fasilitas tersebut, yakni antara lain (a) mailinglist, fasilitas ini memungkinkan masyarakat dapat membentuk group / kelompok yang memiliki hobi / bidang yang sama, seperti kelompok ilmu pengetahuan fisika, matematika, agama, komputer, pertanian dan sebagainya. Dengan adanya fasilitas tersebut maka akan terjadi diskusi, sehingga pemahaman ilmu pengetahuan dapat merata dan berkembang; (b) Chating, adanya fasilitas ini sebagai cara berkomunikasi menggunakan teks / gambar secara langsung, kini fasilitas chating juga dilengkapi media teleconference dimana pemakai komputer bisa berbicara lansung dan bertatap muka langsung secara gratis; (c) E-mail (elektronik mail), surat menyurat melalui pos kini telah tergantikan dengan adanya fasilitas e-mail yang jauh lebih cepat dan juga dapat saling berkirim data secara elektronik ; dan sebagainya.

Internet Sebagai Media Informasi

Informasi-informasi penting akan begitu cepat dapat diketahui dari Internet dengan cepat. Informasi tersebut biasanya diambil dari berbagai website yang isinya dapat berupa informasi beasiswa, informasi berita terkini, perkembangan teknologi, pemerintahan dan sebagainya.

Internet Sebagai Media Riset

Tidak dapat dipungkiri Internet sebagai perpustakaan terbesar di dunia, segala informasi dapat dicari, terlebih lagi tentang ilmu pengetahuan. Internet kini menjadi rujukan referensi dari berbagai ilmu pengetahuan dari berbagai bidang ilmu pengetahuan. Riset atau penelitian pasti membutuhkan kajian teori atau referensi dari berbagai sumber, untuk itulah adanya Internet dapat menjadi sumber informasi yang dapat dijadikan referensi yang dapat kita mengambilnya dari mana saja kita berada.

Internet sebagai Media Belajar Jarak Jauh

Adanya E-learning memberikan kontribusi sendiri bagi pendidikan dimana belajar dapat dilakukan tanpa mengenal batas geogravis. Sejauh ini salah satu perguruan tinggi negeri yang h melakukan program e-learning adalah Universitas Indonesia. Walaupun hal ini belum begitu ngetrend di negara kita, namun kedepan banyak pengamat mengatakan perkembangannya akan semakin pesat.

Internet Sebagai Media Publikasi Ilmiah

Mencurahkan ilmu pengetahuan dan sharing berbagai penelitian adalah bagian dari pendidikan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Adanya berbagai jurnal-jurnal berbasis website memberikan kesempatan untuk dapat menampilkan publikasi ilmiah kita ataupun artikel-artikel yang dapat dibaca berbagai kalangan.

Kendala mahalnya infrastruktur Internet memang menjadi masalah tersendiri dalam perkembangan ilmu pengetahuan, terlebih daerah terpencil, apa lagi sebagian besar daerah di Indonesia belum menggunakan Listrik. Untuk itulah hal ini menjadi tantangan sendiri bagi kita semua untuk meminimalisir kendala-kendala tersebut terutama bagi pemerintah. Mahalnya biaya Internet dapat ditekan dengan adanya pemakaian secara bersama sehingga bandwith yang digunakan menjadi semakin murah dan juga adanya penggunaan open source sebagai solusi software gratis sebagai bagian penting adanya Internet.

Peningkatan kemajuan pendidikan di era otonomi daerah yang di support dengan adanya Internet akan membawa dampak yang fositif bagi perkembangan pendidikan itu sendiri. Kita berharap dukungan Internet di daerah akan memunculkan sekolah-sekolah ataupun perguruan tinggi-perguruan tinggi bertaraf internasional dan juga muncul bibit-bibit SDM yang unggul yang mendapat prestasi-prestasi seperti juara oliempiade oliempiade berbagai disiplin ilmu pengetahuan, serta muncul penemuan-penemuan baru yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

A. Dunia Pendidikan Konvensional Indonesia

Secara umum Dunia Pendidikan memang belum pernah benar-benar menjadi wacana yang publik di Indonesia, dalam arti dibicarakan secara luas oleh berbagai kalangan baik yang bersentuhan langsung maupun tidak langsung dengan urusan pendidikan. Namun demikian, bukan berarti bahwa permasalahan ini tidak pernah menjadi perhatian.

Upaya-upaya peningkatan kualitas mutu serta kuantitas yang membawa nama pendidikan telah dilakukan oleh pihak pemerintah, walau sampai saat ini kita belum melihat hasil dari usaha tersebut. Apabila kita melihat dari sudut pandang nasional atau alias yang umum-umum saja jadi marilah kita lihat apa yang dilakukan oleh pemerintah. Usaha yang dilakukan oleh pemerintah biasanya bersifat konstitusional demi mendapatkan lulusan dari sekolah yang kompetitif dan siap bersaing secara global, semisalkan dengan menetapkan angka batas minimal kelulusan UAN dengan nilai sebesar 4,00 dengan tidak digabung dengan poin pada ujian praktek ditambah lagi tanpa ujian praktek. Pada hal ini bukannya kita menemukan pemerintah berusaha untuk memperbaiki mutu pendidikan melainkan nampak sepertinya pemerintah hendak menjegal generasi kita.

Apabila kita amati dengan seksama, apa sebenarnya yang menjadi inti permasalahan pada dunia pendidikan, mungkin jauh lebih sulit dari menggantang asap. Berbagai hal dapat saja dipersalahkan sebagai pokok masalah yang menghambat kemajuan dunia pendidikan di Indonesia. Namun demikian, yang jelas-jelas dapat kita temukan sebagai suatu kecacatan ialah proses belajar mengajar konvensional yang mengandalkan tatap muka antara guru dan murid, dosen dengan mahasiswa, pelatih dengan peserta latihan, bagaimanapun merupakan sasaran empuk yang paling mudah menjadi sasaran bagi suara-suara kritis yang menghendaki peningkatan kualitas pada dunia pendidikan.

Ketidakefektifan adalah kata yang paling cocok untuk sistem ini, sebab seiring dengan perkembangan zaman, pertukaran informasi menjadi semakin cepat dan instan, namun institut yang masih menggunakan sistem tradisional ini mengajar (di jenjang sekolah tinggi kita anggap memberikan informasi) dengan sangat lambat dan tidak seiring dengan perkembangan IT. Sistem konvensional ini seharusnya sudah ditinggalkan sejak ditemukannya media komunikasi multimedia. Karena sifat Internet yang dapat dihubungi setiap saat, artinya siswa dapat memanfaatkan program-program pendidikan yang disediakan di jaringan Internet kapan saja sesuai dengan waktu luang mereka sehingga kendala ruang dan waktu yang mereka hadapi untuk mencari sumber belajar dapat teratasi. Dengan perkembangan pesat di bidang teknologi telekomunikasi, multimedia, dan informasi; mendengarkan ceramah, mencatat di atas kertas sudah tentu ketinggalan jaman.

B. Penggunaan IT Dalam Dunia Pendidikan

Arti IT bagi dunia pendidikan seharusnya berarti tersedianya saluran atau sarana yang dapat dipakai untuk menyiarkan program pendidikan. Namun hal Pemanfaatan IT ini di Indonesia baru memasuki tahap mempelajari berbagai kemungkinan pengembangan dan penerapan IT untuk pendidikan memasuki milenium ketiga ini.

Padahal penggunaan IT ini telah bukanlah suatu wacana yang asing di negeri Paman Sam Sana. Pemanfaatan IT dalam bidang pendidikan sudah merupakan kelaziman di Amerika Serikat pada dasawarsa yang telah lalu. Ini merupakan salah satu bukti utama ketertinggalan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa di dunia.

Berikut ini ialah sampel-sampel dari luar negeri hasil revolusi dari sistem pendidikan yang berhasil memanfaatkan Teknologi Informasi untuk menunjang proses pembelajaran mereka:

1. SD River Oaks di Oaksville, Ontario, Kanada, merupakan contoh tentang apa yang bakal terjadi di sekolah. SD ini dibangun dengan visi khusus: sekolah harus bisa membuat murid memasuki era informasi instan dengan penuh keyakinan. Setiap murid di setiap kelas berkesempatan untuk berhubungan dengan seluruh jaringan komputer sekolah. CD-ROM adalah fakta tentang kehidupan. Sekolah ini bahkan tidak memiiki ensiklopedia dalam bentuk cetakan. Di seluruh perpustakaan, referensinya disimpan di dalam disket video interktif dan CD-ROM-bisa langsung diakses oleh siapa saja, dan dalam berbagai bentuk: sehingga gambar dan fakta bisa dikombinasikan sebelum dicetak;foto bisa digabungkan dengan informasi.

2. SMU Lester B. Pearson di Kanada merupakan model lain dari era komputer ini. Sekolah ini memiliki 300 komputer untuk 1200 murid. Dan sekolah ini memiliki angka putus sekolah yang terendah di Kanada: 4% dibandingkan rata-rata nasional sebesar 30%

3. Prestasi lebih spektakuler ditunjukkan oleh SMP Christopher Columbus di Union City, New Jersey. Di akhir 1980-an, nilai ujian sekolah ini begitu rendah, dan jumlah murid absen dan putus sekolah begitu tinggi hingga negara bagian memutuskan untuk mengambil alih. Lebih dari 99% murid berasal dari keluarga yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua.

Bell Atlantic- Sebuah perusahaan telepon di daerah itu membantu menyediakan komputer dan jaringan yang menghubungkan rumah murid dengan ruang kelas, guru, dan administrator sekolah. Semuanya dihubungkan ke Internet, dan para guru dilatih menggunakan komputer pribadi. Sebagai gantinya, para guru mengadakan kursus pelatihan akhir minggu bagi orangtua.

Dalam tempo dua tahun, baik angka putus sekolah maupun murid absen menurun ke titik nol. Nilai ujian-standar murid meningkat hampir 3 kali lebih tinggi dari rata-rata sekolah seantero New Jersey.

Informasi yang diwakilkan oleh komputer yang terhubung dengan internet sebagai media utamanya telah mampu memberikan kontribusi yang demikian besar bagi proses pendidikan. Teknologi interaktif ini memberikan katalis bagi terjadinya perubahan medasar terhadap peran guru: dari informasi ke transformasi. Setiap sistem sekolah harus bersifat moderat terhadap teknologi yang memampukan mereka untuk belajar dengan lebih cepat, lebih baik, dan lebih cerdas. Dan Teknologi Informasi yang menjadi kunci untuk menuju model sekolah masa depan yang lebih baik.

Namun usaha-usaha dari anak-anak bangsa juga terus dilakukan untuk mengejar ketertinggalan bangsa Indonesia dalam hal penyampaian proses pendidikan dengan penggunaan IT. Semisalnya, baru-baru ini Telkom, Indosat, dan Institut Teknologi Bandung (ITB) menyatakan kesiapannya untuk mengembangkan IT untuk pendidikan di Indonesia, dimulai dengan proyek-proyek percontohan.Telkom menyatakan akan terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas infrastruktur jaringan telekomunikasi yang diharapkan dapat menjadi tulang punggung (backbone) bagi pengembangan dan penerapan IT untuk pendidikan serta implementasi-implementasi lainnya di Indonesia. Bahkan, saat ini Telkom mulai mengembangkan teknologi yang memanfaatkan ISDN (Integrated Sevices Digital Network) untuk memfasilitasi penyelenggaraan konferensi jarak jauh (teleconference) sebagai salah satu aplikasi pembelajaran jarak jauh.

Banyak aspek dapat diajukan untuk dijadikan sebagai alasan-alasan untuk mendukung pengembangan dan penerapan IT untuk pendidikan dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas pendidikan nasional Indonesia. Salah satu aspeknya ialah kondisi geografis Indonesia dengan sekian banyaknya pulau yang terpencar-pencar dan kontur permukaan buminya yang seringkali tidak bersahabat, biasanya diajukan untuk menjagokan pengembangan dan penerapan IT untuk pendidikan. IT sangat mampu dan dijagokan agar menjadi fasilitator utama untuk meratakan pendidikan di bumi Nusantara, sebab IT yang mengandalkan kemampuan pembelajaran jarak jauhnya tidak terpisah oleh ruang, jarak dan waktu. Demi penggapaian daerah-daerah yang sulit tentunya diharapkan penerapan ini agar dilakukan sesegera mungkin di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar